Yogyakarta Hijau

Sesuai aturan lembaga lingkungan hidup internasional, minimal 30 persen dari sebuah wilayah baik kotamaupun kabupaten harus berupa ruang terbuka hijau (RTH). Ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas kualitas udara dan lingkungan di wilayah tersebut. Namun pembangunan RTH di Kota Yogyakarta bukan hanya diarahkan pada pembangunan taman saja.


RTH di Kota Yogyakarta kita bangun justru mulai dari perkampungan melalui gerakan penghijuan di setiap kampung di Yogyakarta. Masyarakat kita ajak untuk bersama-sama menanam dan merawat pohon yang ada sebagai bagian dari RTH tersebut.


Penghijauan juga dilakukan bersama masyarakat dipinggir bantaran sungai. Melalui program pengembangan titik ungkit wilayah, area bantaran sungai di Kota Yogyakarta saat ini sudah banyak yang rindang. Bukan hanya sekedar taman tetapi penghijauan dengan pohon-pohon perindang. Ada anggaran khusus melalui SKPD terkait untuk ini.


Pembangunan RTH private oleh pengusaha maupun instansi juga terus kita dorong dengan kebijakan pengurusan ijin usaha (HO) yang mensyaratkan hal itu. Tidak bisa pembangunan rumah terutama di jalan protokol di Kota Yogyakarta yang tidak menyertakan pembangunan RTH privat 10 persen dari luas tanah yang mereka bangun.


Ini kita lakukan sebagai bagian tanggungjawab masyarakat untuk ikut membangun dan mendirikan RTH di kota Yogyakarta ini. Jika luasan RTH di Kota Yogyakarta saat ini sudah 31 persen lebih dan telah melebihi ketentuan internasional, maka dengan semangat Segoro Amarto (semangat gotong royong membangun Yogyakarta), pembangunan RTH di kota ini akan semakin meluas. Bukan hanya oleh Pemkot Yogyakarta saja tetapi juga oleh masyarakat secara mandiri dan gotong royong.


Melalui gerakan ini marti kita ciptakan Yogyakarta hijau, bersih dan nyaman.

 

Salam Indonesia,

salam Yogya,

salam Haryadi Suyuti

 

(seperti dimuat di Harian Republika 26 September 2012)

 

Pencarian

Galeri

Link