YOGYAKARTA KOTA PUSAKA BERKELANJUTAN

Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pusaka yang spesial. Yogyakarta dinilai sukses merawat berbagai heritage yang ada. Letak geografis kota Yogyakarta juga tidak jauh dari beberapa situs skala dunia, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan dan juga Sangiran.

 

Kota Yogyakarta juga menjadi bagian kota lama dunia yang memiliki ragam kekayaan heritage yang luar biasa, baik dari sisi jumlah maupun jenisnya. Potensi heritage yang ada meliputi Tangible Heritage dan Intangible Heritage, hal inilah yang menjadikan Kota Yogyakarta bagian dari revitalisasi kota budaya dunia.

 

Begitu pentingnya upaya pelestarian heritage agar aman dan tidak punah, secara khusus saya membentuk Tim Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya, yang bertugas membantu saya untuk memberikan pertimbangan segala hal yang berhubungan dengan cagar budaya. Begitu juga untuk perumusan strategi penataan ruang kota dalam sinergi kegiatan pelestarian yang tepat.

 

Kota Yogyakarta juga tercatat sebagai anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI/Indonesian Heritage Cities Network). Kerjasama dengan berbagai pihak dalam pengelolaan cagar budaya seperti keikutsertaan Kota Yogyakarta dalam JKPI bersama 48 kota lainnya merupakan komitmen dalam pelestarian cagar budaya.

 

Kota Yogyakarta saat ini memiliki 86 heritage yang sudah berstatus cagar budaya, dan 369 lainnya berstatus warisan budaya. Bangunan heritage yang ada di Kota Yogyakarta hampir 90% merupakan Living Monument dan masih dimiliki perseorangan. Inilah yang menjadikan treatment pelestariannya berbeda dengan pelestarian bangunan yang sifatnya dead monument.

 

Kawasan cagar budaya juga telah ditetapkan di 8 wilayah yaitu : Kawasan Kotabaru,  Kawasan Malioboro, Kawasan Kraton, Kawasan Pakualaman, Kawasan Kotagede, Kawasan Baciro, Kawasan Jetis dan Kawasan Pengok.

 

Revitalisasi kawasan pusaka sebagai upaya mengembalikan dan meningkatan vitalitas kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi menjadi bagian dari komitmen saya. Pelestarian akan memperhatikan aspek pengembangan dan pemanfaatan heritage sehingga membawa dampak kesejahteraan masyarakat dan memperkuat jati diri bangsa.

 

Beberapa waktu lalu saya melakukan Penandatanganan Piagam Kota Pusaka dalam acara Puncak Peringatan Hari Tata Ruang (HARITARU) 2012 di Kementerian Pekerjaan Umum. Kota Yogyakarta terpilih sebagai pilot project dalam program pengembangan kota hijau dan program penataan dan pelestarian kota pusaka. Diharapkan dalam jangka panjang nanti Kota Yogyakarta akan mampu menjadi salah satu World Heritage City dari UNESCO.

Karenanya saya juga mendorong masyarakat agar bisa tetap mempertahankan budaya Kota Jogja yang adiluhung penuh dengan filosofi yang dimiliki. Bagaimana agar masyarakat yang tinggal turun temurun bisa tetap melestarikan budaya dan tidak terburu-buru menjual tanahnya, karena dengan berpindah kepemilikan kepada orang baru dimungkinkan menghilangkan tradisi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Masalah yang seringkali menghampiri adalah persoalan waris, atau perubahan fungsi yang menuntut perubahan bentuk bangunan, dan keterbatasan pembiayaan untuk konservasi. Hal-hal inilah yang selama ini banyak dihadapi oleh masyarakat pemilik heritage.

 

Kedepan, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melindungi infrastruktur cagar budaya. Misalnya memunculkan kembali bangunan beteng yang sekarang telah tertutup dan juga pelestarian perkampungan yang penuh dengan bangunan kuno di Kotagede, bekerja sama dengan UNESCO.

Salam Yogyakarta Istimewa

Salam Haryadi Suyuti

 

Pencarian

Galeri

Link